Sabtu, 23 Maret 2013

DAHSYAT BERWUDHU



Wudhu Merontokkan Dosa dan Maksiat





Satu hal yang pasti, setiap manusia -kecuali Nabi dan Rasul serta para Imam yang disucikan- tidak bisa terbebas dari melakukan perbuatan dosa dan maksiat. Jadi, terhadap perbuatan dosa dan maksiat, kita semua tidak bisa ditanya dengan pertanyaan seperti ini: “Bisakah kita terbebas dari dosa dan maksiat?” Pertanyaan yg tepat untuk dipertanyakan adalah, “Sejauh mana kita bisa mengurangi perbuatan dosa dan kemaksiatan?” atau, “Sejauh mana kita bisa merontokkan dosa dan kemaksiatan?” Sekarang mari kita renungkan sabda Rasulullah Saw., berikut ini :

Apabila seorang hamba yg muslim atau mukmin itu berwudhu di mana sewaktu ia membasuh mukanya, maka keluarlah semua dosa yg dilihat dengan kedua matanya dari mukanya bersama-sama dengan air itu atau bersama-sama dengan tetesan air yg terakhir. Jika ia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah semua dosa yg diperbuat oleh kedua tangannya itu bersama-sama dengan air itu atau bersama-sama dengan tetesan air terakhir. Dan jika ia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah semua dosa yg diperbuat oleh kedua kakinya itu bersama-sama dengan air itu atau bersama-sama dengan tetesan air yg terakhir, sehingga ia benar-benar bersih dari semua dosa. (HR. Muslim dari Abu Hurairah dalam Riyadush Shalihin).

Perhatikan lagi sabda Rasulullah berikut ini :

“Maukah kamu sekalian aku tunjukkan sesuatu yg mana dengan sesuatu itu ALLAH akan menghapus dosa-dosa kalian dan dengan sesuatu itu pula ALLAH akan mengangkat kalian beberapa derajat?” Para sahabat menjawab, “Iya, wahai Rasulullah.” Nabi bersabda, “Yaitu menyempurnakan wudhu atas hal-hal yg tidak disukai, memperbanyak langkah ke masjid-masjid dan menantikan sholat sehabis sholat. Maka itulah yang dinamakan ar-Ribath (mengikatkan diri dalam ketaatan).” (HR. Muslim)

Maha Hebat ALLAH ketika DIA memberikan perintah kepada kita agar kita berwudhu! Menurut kedua riwayat di atas, wudhu dapat menggugurkan atau merontokkan dosa-dosa atau kejahatan-kejahatan yg kita lakukan, seiring dengan gugurnya, rontoknya, atau tetesnya air wudhu yang kita gunakan! Sekarang, apa kaitan antara rontok atau gugurnya dosa dan kesalahan dengan terbukanya mata hati dan tersingkapnya penglihatan bathin? Jawabannya amatlah jelas dan erat. Upaya untuk membersihkan dan menyucikan diri, pertama-tama dimulai dengan upaya untuk menggugurkan atau merontokkan dosa dan kesalahan, sedangkan kebersihan dan kesucian diri -baik jasmani maupun ruhani- merupakan jalan untuk membuka mata hati dan menyingkapkan penglihatan bathin, yg kemudian nanti akan sampai kepada wajah ALLAH Swt. Upaya yg demikian inilah, yg dalam khazanah sufi, disebut sebagai wara’. Secara harfiah,wara’ artinya menaha diri, berhati-hati, atau menjaga diri supaya tidak jatuh dalam kecelakaan. Ibn Qayyim dalamMadaraij al-Salikin, mengutip Al-Qur’an surah Al-Muddatstsir [74]: 4, sebagai perintah untuk wara’ : Dan pakaian kamu bersihkanlah! Secara sigkat, wara’ adalah nilai kesucia diri. Orang Islam mengukur keutamaan, makna atau keabsahan gagasan atau tindakan, dari sejauh mana keduanya memproses penyucian diri. Kata Al-Qur’an :

Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syams [91]: 9-10)
Salah satu misi Nabi Muhammad Saw., adalah “menyucikan kamu” :

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kapadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa-apa yang belum kamu ketahui. (QS. Al-Baqarah [2]: 151)

Bertolak dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah tentang kesucian diri ini, para sufi merumuskan tiga tahap dalam perjalanan (suluk) mendekati ALLAH Swt.:

·         Takhalli, yakni tahap pembersihan diri itu -tahap merontokkan atau menggugurkan dosa dan kesalahan, yang dalam kajian ini dilalui dengan  wudhu.

·         Tahalli, setelah dosa dan kesalahan rontok dan gugur, tahap selanjutnya adalah menghias diri dengan akhlak ALLAH, yakni dengan menghias diri dengan sifat, sikap dan perbuatan yang sesuai dengan sifat-sifat ALLAH, seperti benar, jujur, adil, lembut, cinta-kasih, dst.

·         Tajalli, yakni pengalaman puncak yang dicari pecinta ALLAH. Inilah tahapan ketika ALLAH tidak lagi merupakan abstraksi, bukan pula Zat yang hanya diketahui melalui ayat-ayat-NYA. DIA “disaksikan” dan dirasakan kehadiran-NYA. Keagungan-NYA tidak lagi dibaca, tetapi “dilihat”.

Ketika berada dalam tahap tajalli, keindahan-NYA tidak lagi dibuktikan, tetapi “dinikmati”. Ibn ‘Arabi hanya membagi “yang ada” menjadi dua macam saja : Huwa dan La HuwaDia dan Bukan Dia. Sekarang, tengoklah ke sekitar kita. Apa yg kita saksikan? Matahari, pepohonan, hewan, orang lain atau diri sendiri? semuanya La Huwa. ALLAH Swt berfirman :

Dan kepunyaan ALLAH-lah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah ALLAH. Sesungguhnya ALLAH Maha Luas (rahmat-NYA) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2]: 115)

Sekarang, hadapkanlah wajah kita kemana pun, apa yg kita lihat?
Wajah-wajah selain ALLAH, La Huwa.

Al-Qur’an sudah pasti tidak salah. Yang salah adalah diri kita; karena ihwal kita yang kotor, karena diri kita yg belum dihias dg sifat-2 ALLAH, DIA tidak tampak pada kita. “Penampakan” ALLAH itu disebut tajalli. Ketika tajalli, kemana pun muka kita diarahkan, kita hanya akan melihat Huwa. Karena itu, bersihkan diri kita lebih dahulu, kemudian hiasi diri kita dengan akhlak ALLAH.

Sungguh luar biasa ajaran wudhu, sebab dia menjadi penanda awal, cara pertama, jalan nomor satu, untuk membersihkan diri dari dosa dan kesalahan. Tujuan puncaknya adalah wajah ALLAH, yaitu kenikmatan dalam “memandang”-NYA. Kenikmatan akan kekuatan-NYA. Kenikmatan akan kuasa-NYA. Kenikmatan akan kemuliaan-NYA. Kenikmatan akan kebesaran-NYA.

Berwudhulah sekarang juga duhai saudaraku…!
Tinggalkan kejelekan seiring dengan keringnya air wudhu dari kedua wajah kita. Tinggalkan kejahatan seiring dengan keringnya air wudhu dari kedua tangan kita. Tinggalkan kemaksiatan seiring dengan keringnya air wudhu dari kepala kita. Tinggalkan pula keburukan seiring dengan keringnya air wudhu dari kedua kaki kita.


Setelah itu, menjauhlah dari hal yg diperbolehkan, karena boleh jadi hal yg dibolehkan itu membawa kita kepada hal yg dilarang. Lari jauhilah segala sesuatu selain ALLAH Swt.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar